Sunday, October 22, 2017
Breaking News
Home » News » Gedung SD di Lamongan Rusak Parah, Dua Ruangan Rata dengan Tanah
Gedung SD di Lamongan Rusak Parah, Dua Ruangan Rata dengan Tanah

Gedung SD di Lamongan Rusak Parah, Dua Ruangan Rata dengan Tanah

Ironis, sebuah sekolah dasar di Lamongan dalam kondisi tak layak pakai. Ruang kelas di gedung SDN Jatipandak Desa Jatipandak Kecamatan Sambeng ini rusak berat. Bahkan 2 ruangan rata dengan tanah sehingga tak mungkin difungsikan lagi.

Meski rusak parah, namun proses belajar masih berlangsung. Letak sekolah yang jauh dari pusat Kota Lamongan dan berdekatan dengan hutan ini menyebabkan tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya.

Jika dilihat secara sepintas, tidak ada yang berbeda dengan proses belajar mengajar di sekolah ini. Namun jika diperhatikan, akan terlihat kondisi bangunan sekolah yang telah rusak berat.

Dinding ruang kelas tampak retak, meski pihak sekolah sudah berulang kali memperbaikinya dengan dana swadaya wali murid, namun kerusakan pada dinding kelas tetap terus saja terjadi. Dinding ruang kelas itu hanya terbuat dari papan triplek juga sudah usang. Atap bangunan juga rusak parah.

Salah seorang guru SDN Jatipandak, Wiwit mengatakan, kerusakan sekolah ini sudah berlangsung lama. Bahkan sekolah yang sekolah yang telah berdiri sejak tahun 80-an ini belum tersentuh pembangunan dari dana bantuan pemerintah.

“Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 1980-an,” kata Wiwit kepada wartawan saat ditemui di lokasi, Kamis (20/11/2014).

Agar kegiatan belajar mengajar di SD ini bisa berlangsung, kata Wiwit, para guru terpaksa membagi 1 ruangan untuk dipakai 2 kelas yang berbeda. Saat ini hanya 4 ruangan dari 7 ruangan yang masih bisa digunakan. “Tiga ruang untuk kegiatan belajar mengajar dan 1 ruangan untuk ruang guru,” katanya.

Dua ruangan yang mengalami kerusakan parah adalah ruang kelas 5 dan kelas 6. Bahkan, 2 ruang kelas ini telah rata dengan tanah sejak tahun 2007 silam. Sementara, ruang perpusatakaan yang juga digunakan sebagai ruang guru yang juga sudah tidak dapat digunakan.

Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat hujan atau ada angin kencang, pihak sekolah terpaksa harus memulangkan siswanya lebih awal.

“Kami berharap agar segera mendapat bantuan dan siswa dapat belajar dengan tanpa rasa was-was,” harap Wiwit.

Sementara, para siswa mengaku khawatir dengan kondisi gedung sekolahnya. Mereka merasa tak nyaman saat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Pasalnya, mereka khawatir jika sewaktu belajar tiba-tiba gedung sekolahnya roboh.

“Kalau sedang belajar kami juga was-was karena khawatir sewaktu-waktu saja ada kejadian gedungnya roboh,” kata Tazilun, seorang siswa kelas 5.

 

 

Sumber : detikNews

Eko Sujarwo