Friday, September 22, 2017
Breaking News
Home » Kesehatan » Jangan Isap Racun Korban Gigitan Ular
Jangan Isap Racun Korban Gigitan Ular

Jangan Isap Racun Korban Gigitan Ular

elama ini cara menangani korban gigitan ular dalam keadaan darurat, dengan mengisap racun lalu meludahkan ke tanah. Metode ini tidak boleh dilakukan bila orang yang melakukan pengisapan memiliki gigi berlubang, dikhawatirkan malah meracuni yang membantu korban.

Pada pengetahuan terbaru, cara pengisapan ini dilarang, karena justru akan merusak pembuluh darah dan mengundan risiko terburuk, yakni amputasi.

Jadi, bagaimana cara paling aman menanggulangi kasus gigitan ular berbisa? “Prosedur terbaru untuk pertolongan pertama pasien yang terkena venom (bisa) ular sebetulnya cukup dibersihkan, dibidai (bagian tergigit dibalut kencang agar tidak dapat digerakkan), lalu segera dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk mendapatkan SABU,” papar DR. dr. Tri Maharani, M.Si SP.EM. dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

SABU yang dimaksud tentu bukan narkotika. Melainkan Serum Anti Bisa Ular. Maka, sebisa mungkin segera bawa korban guna mendapatkan perawatan medis yang tepat.

Sayang, di Indonesia hanya tersedia jenis polivalen, atau satu serum untuk semua jenis bisa. Serum jenis ini kurang kuat dibanding monovalen (monoklonal) yang lebih spesifik mendeteksi jenis racun dari ular tertentu.

Namun, Maharani mengakui untuk memakai serum monovalen pun, tenaga medis di Indonesia perlu mengetahui semua jenis racun ular yang menggigit pasien.

“Inilah yang menjadi fokus perhatian kita, karena spesialis emergensi saja baru ada 27 orang dan yang memiliki sub-fokus ‘snake bite’ (gigitan ular) dan toksikologi baru saya sendiri,” ungkapnya pada “Seminar Penanganan Gigitan Ular” di Buncit Indah, Jakarta Selatan, Sabtu (22/11).

Padahal menurut Maharani, kasus gigitan ular di Indonesia cukup banyak. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada 2011-2014 di Rumah Sakit di lima kota, yakni Malang, Surabaya, Serang, Batam, dan Merauke, terdapat lebih dari 200 kasus gigitan ular per tahun dan 40 persen di antaranya meninggal dunia.

“Jumlah itu bisa lebih banyak lagi karena biasanya yang tercatat hanya di rumah sakit, sedangkan di Puskesmas atau bahkan yang tidak sampai dibawa ke layanan kesehatan kadang tidak tercatat,” kata dia.

Selain itu, Maharani mengatakan sosialisasi penanganan gigitan ular juga terkendala sifat masyarakat yang belum terlalu mementingkan pelayanan medis.

“Di daerah terpencil terutama, kalau ada yang digigit ular ya takdir, masyarakat hanya melakukan prosedur yang biasanya masih melakukan pengisapan dan sama sekali tidak dibawa ke Puskesmas,” kata dia.

Menurut Maharani, peran tenaga medis sangat diperlukan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Oleh karena, itu Maharani sangat gencar melakukan seminar dan diskusi terkait penanganan gigitan ular, termasuk dalam seminar nasional yang akan diselenggarakan di Malang, Jawa Timur, 4-6 Desember mendatang.

Pada kesempatan itu, Maharani dan timnya juga akan meluncurkan akun media sosial yang akan membahas penanganan gigitan ular dan sosialisasi serum monovalen, di mana praktisi, akademisi dan khalayak luas dapat langsung melakukan tanya-jawab.

“Harapan kami para tenaga medis memiliki pengetahuan, keterampilan dan jaringan dalam menangani kasus gigitan ular sehingga korban yang selamat akan lebih banyak,” pungkasnya.

 

 

 

Sumber: Harian Nasional