Monday, December 11, 2017
Breaking News
Home » News » Pemasangan Biopori di Lamongan Baru Capai 35 Persen
Pemasangan Biopori di Lamongan Baru Capai 35 Persen
contoh pemasangan Biopori

Pemasangan Biopori di Lamongan Baru Capai 35 Persen

Info Lamongan – Program pemasangan Biopori yang dicanangkan tembus 100 ribu pada tahun 2014 terkesan setengah hati. Bagaimana tidak, meski sudah memsuki akhir tahun 2014, pemasangan Biopori untuk resapan air di Lamongan baru terlaksana 35 ribu Lubang Resapan Biopori  (LRB).

Bahkan karena lambanya kinerja Badan Lingkungan Hidup (BLH), Lamongan terancam tidak mendapatkan piala Adipura Kencana untuk selanjutnya karena salah satu komponen pemasangan Biopori masuk penilaian, hingga saat ini masih belum selesai.

Problem lain juga, saat ini baru dilakukan penanaman sejumlah bunga di beberapa titik kota, untuk menambah keindahan dan kesejukan taman, karena harus menghindari musim kemarau sebelumnya.

Sementara keberadaan Biopori masih belum mampu membantu peresapan air hujan. Buktinya beberapa hari yang lalu, Lamongan kota diguyur hujan dua jam lebih, sejumlah jalan protokol yang sebagian sudah dipasang Biopori sama sekali tidak membantu.

Masih banyak ditemukan sejumlah jalan yang banjir akibat tergenang air hujan, salah satu faktorya selain tidak normalnya drainase karena ada penyumbatan, juga akibat fungsi Biopori yang belum normal, bahkan sebagian buntuh namun dibiarkan.

Untuk mengejar target pemasangan 100 ribu Biopori tersebut, BLH Senin (8/12) harus meminta bantuan warga dengan merekrut 9 ribu kader lingkungan, dan meberikan bantuan 501 unit alat bor tanah manual secara simbolis untuk seluruh desa di Lamongan.

Kepala BLH Sukiman menyebutkan, saat ini sudah ada sejumlah 35.500 unit LRB. Sebanyak 21 ribu unit dibuat melalui Program Lamongan Green and Clean (LGC) dan sisanya, sebanyak 14.500 unit hasil program kerjasama dengan TNI.

Selain LRB, berbagai inovasi bernilai lebih akan terus dilakukan. Seperti pengembangan desa proklim yang saat ini baru ada lima desa. Yakni Desa Made, Kelurahan Tumenggungan, Desa Mungli, Butungan dan Brangsi. Desa Proklim sendiri adalah desa yang melakukan adaptasi dan mitigasi berdasarkan kearifan dan berwawaskan lingkungan. “TPA Tambakrigadung juga akan terus ditata sehingga Lamongan benar-benar akan merdeka dari sampah. Selain saat ini sudah dibangun sistem pengolahan sampah dengan sanitary landfill, juga akan dibangun mesin pencacah sampah plastik serta pembangkit listrik tenaga sampah,” pungkasnya. jir

 

 

Sumber: Surabayapagi.com