Wednesday, September 20, 2017
Breaking News
Home » News » Pro Kontra Kurikulum 2013 (K-13) di Lamongan
Pro Kontra Kurikulum 2013 (K-13) di Lamongan
Suasana Belajar di Salah Satu Sekolah Di Lamongan

Pro Kontra Kurikulum 2013 (K-13) di Lamongan

Info Lamongan – Keputusan Menteri  Kebudayaan, Pendidiikan Dasar dan Menengah,  Anies Baswedan, menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) mendapat tanggapan pro kontra di Lamongan, Jawa Timur.

Dinas Pendidikan mengharap program K-13 dilanjutkan namun para guru justru mensetujui jika program warisan pemerintahan Presiden SBY ini dihapuskan.

Kepala UPT Pendidikan Sekaran, Sutam, menolak jika K-13 dihapuskan. Dirinya sangat menyayangkan keputusan Menteri Pendidikan yang dinilainya tergesa-gesa.

“Seharusnya K-13 tetap dilanjutkan mengingat program ini sudah menelan dana Negara cukup besar, dan sudah dilaksanakan secara nasional,“ kata Sutam, Selasa (9/12/2014).

Dia tambahkan, jika ada kekurangan seharusnya disempurnakan karena selama ini juga belum ada evaluasi efektif  tidaknya program K-13.

Bahkan Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Bambang Kustiono juga menyayangkan jika program K-13 ini dihapuskan.

“Kepala Dinas Pendidikan Lamongan sudah mengumpulkan 27  Kepala UPT Pendidikan se Kabupaten Lamongan. Beliau menerangkan jika K-13 tidak diganti namun akan disempurnakan,“ papar Sutam.

K-13 sendiri sudah diterapkan di 22 SD dari kelas 4 hingga kelas 6 di Kecamatan Sekaran selama satu semester ini.

Sementara Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Babat, Suparto, memilih bersikap fleksibel. Dirinya akan mengikuti petunjuk lebih lanjut sesuai dengan kebijakan Menteri Pendidikan.

“Sebenarnya kalau dilihat dari esensi K-13 ingin peradaban bangsa ke depan lebih bermartabat. Cuma tenaga pendidik kita secara umum belum siap melaksanakannya, “ ucapnya diplomatis.

Beberapa guru yang dikonfirmasi SuaraBanyuurip.com justru mengaku senang dengan dihapuskannya K-13, dan kembali kepada kurikulum 2006.

“Cara pengajaran ke siswa lebih mudah dengan menggunakan 2006. Siswa juga sulit menerima dengan pembelajaran dengan K-13. Jadi sudah tepat jika K-13 dihapuskan, “ ucap salah satu guru di Kecamatan Turi, Tutik.

Guru lainnya asal Pucuk, Didik, menilai banyak kelemahan pada K-13 sehingga tepat jika dihapuskan. Salah satu diantaranya yaitu materi pelajarannya lebih banyak. Selain itu dalam K-13 tidak ada indikator, dan kompetensi dasar yang sangat menyulitkan siswa.

“Jelas lebih mudah menerapkan K-2006 siswa lebih mudah paham,“ paparnya. (tok)

 

 

Sumber: suarabanyuurip.com

Totok Martono