Friday, September 22, 2017
Breaking News
Home » News » Inovasi PMI Lamongan Atasi Rendahnya Kesadaran Warga Donorkan Darah
Inovasi PMI Lamongan Atasi Rendahnya Kesadaran Warga Donorkan Darah
Serma Suyanto, anggota TNI AD Kodim 0812 Lamongan dengan kesadarannya sendiri datang ke PMI Cabang Lamongan Jalan Kusuma Bangsa untuk mendonorkan darahnya, Selasa (16/12/2014)

Inovasi PMI Lamongan Atasi Rendahnya Kesadaran Warga Donorkan Darah

Info Lamongan – Meski berbagai cara dilakukan,  unit transfusi darah (UTD) PMI Cabang Lamongan sampai kini masih kekurangan stok darah untuk meningkatkan cadangan darah agar bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.

Tiap tahun problem ini belum bisa terjawab. Alhasil, PMI Lamongan harus impor darah dari daerah lain seperti Surabaya dan kabupaten tetangga, seperti Tuban atau Bojonegoro. Setiap bulannya,  PMI Cabang Lamongan rata-rata harus memenuhi kebutuhan sekitar 800 hingga 900  kantong darah. Namun sementara kemampuan dari pengadaan PMI sendiri hanya bisa memenuhi 400 kantong saja.

“Kami harus mengusahakan maksimal dengan jemput bola, baikpada Ormas, sekolah, Ponpes dan di perguruan tinggi. Artinya PMI yang harus datang meski jauh tempatnya,”ungkap Teknisi Transfusi, Eko Harjono kepada Surya, Selasa (16/12/2014).

Inovasi lain yang harus diterobos PMI untuk pemenuhan stok darah juga dilakukan khusus bulan Ramadan, PMI selama sebulan penuh menyediakan souvenir  berisi kaos, jus dan jam dinding bagi setiap pendonor yang mau menyumbangkan darahnya.

Perlakukan khusus itu diberikan karena selama bulan puasa terjadi penurunan jumlah pendonor yang sangat drastis. Diluar Ramadan sehari bisa mencapai 10 pendonor yang mau datang ke UTD PMI d jalan Kusuma Bangsa.  Ramadan, maksimal hanya 5 pendonor setiap hari.

Padahal donor di bulan Ramadan masih bisa dilakukan saat siang hari. Dan dilakukan maksimal 11 jam sejak makan sahur. Karena darah yang diambil dari setiap pendonor mencapai 350 cc. Lebih dari itu sangat tidak disarankan. Hanya saja terkadang ada rasa kekhawatiran badannya akan lemas jika  mereka mendonorkan pada bulan puasa.“Kalau secera medis tidak perlu ditakutkan,”katanya.

Pada setiap momen, baik PHBI, PHBN  dan kegiatan yang melibatkan massa besar  PMI selalu untuk diajak kerjasama dengan bentuk donor darah di lokasi acara.  Praktik semacam ini kini  semakin meningkat, karena selain merayakan momen dalam bentuk pesta juga beramal melalui donor darah.”Istilahnya, donor darah itu beramal tanpa biaya. Malahan pendonor dapat imbalan makan kecil,”ungkap Eko.

Menurut Eko, sinergi PMI dengan lintas kalangan ini terbukti efektif dalam meningkatkan stok darah. Tapi sejauh ini masih belum mencukupi karena masih banyak masyarakat yang kurang sadar mendonorkan darahnya.

Eko mengungkapkan, masyarakat yang ingin donor sebenarnya cukup mudah asal mengikuti petunjuk yang ada, Pendonor cukup datang di tempat donor darah semisal di PMI. Kedatangan pendonor akan diperiksa awal soal tekanan darahnya.

Kalau secara medis tak masalah, selanjutnya diminta mengisi form yang sudah ada, untuk menjawab dengan tanda silang pada 12 pertanyaan. Petugas akan memberikan arahan dengan jawaban yang jujur sebab itu akan menentukan sang pendonor bisa diambil darahnya atau tidak.

Jika bisa diambil darahnya,  darah akan diperiksa  terhadap HbsAg, HIV, HCV dan VDRL dan hasil pemeriksaan laboratorium pendonor tidak akan diinformasikan kepada orang lain.

Jika pemeriksaan awal sesuai dengan standar medis donor darah, maka pendonor  haru bersedia untuk diambil contoh darahnya untuk keperluan pemeriksaan laboratorium atau riset sebanyak 5 – 10 cc.

“Yang penting calon pendonor harur jujur saat mengisi jawaban pada form yang disediakan,”kata Eko.

Ditanya stok darah di UTD PMI saat ini, Eko mengungkapkan masih cukup . Untuk golongan darah A tersedia 60 kantong, B 47 kantong, O 73 kantong dan AB 24 kantong.

 

 

Sumber: Surya

Hanif Manshuri