Wednesday, September 20, 2017
Breaking News
Home » News » Lamongan Plaza Rp 63 Miliar yang Tak Diminati
Lamongan Plaza Rp 63 Miliar yang Tak Diminati
Tampak stand di Lamongan Plaza yang tidak tutup dan ditinggalkan pemiliknya. Alasannya, karena sepi pembeli, Selasa (30/12/2014) Surya/Hanif Manshuri

Lamongan Plaza Rp 63 Miliar yang Tak Diminati

Empat tahun sudah Lamongan Plaza beroperasi, keberadaannya diharapkan bisa membangkitkan gairah perekonomian Lamongan dan menjadikannya sebagai tempat berbelanja Namun kenyataannya, ratusan stand yang terjual ditinggalkan pemiliknya dan sebanyak 136 stand belum laku dari total 280 stan di  lantai dasar hingga lantai dua.

Berbagai upaya dilakukan pemkab melalui Perusahaan Daerah  (PD) Pasar belum membuahkan hasil.  Bahkan ada stand yang sama sekali tidak dilirik tepatnya dilantai dua. Sedang lantai satu hanya ada satu stan yang buka dari total 54 stan. Satu persatu stand itu ditinggalkan pemiliknya. Sedangkan lantai dua tidak satupun stan terjual dari total 52 unit stan.

Upaya PD Pasar untuk menghidupkan puast perbelanjaan modern itu sudah tidak kepalang tanggung, ritel – ritel terkemuka banyak dilamar, hingga bertemu Ramayan yang menempati Lamongan Plaza sejak pertengahan 2013 hingga akhir 2014 harus hengkang, karena sepi pembeli.

Sementara di lantai dasar yang semula  terjual 31 unit dan itupun yang membuka stan hanya 21 unit dari total sebanyak 38 unit stan juga tidak lagi kelihatan aktifitasnya. Sedangan untuk 126 open counter hanya separuh juga mengalami nasib yang sama.

Gran opening Lamongan Plaza terhitung sejak 2011 lalu hingga kini tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan.  Berbagai promosi diterapkan dengan menggelan event, namun kenyataannya tidak mampu mendongkrak penjualan stan jumlah pengunjung Lamongan Plaza.

Seperti yang tampak di stan Akbar Collection, A’An Collection milil Yuli  dan juga puluhan stan yang semula dibuka dengan menggelar dagangannya kini ditinggal karena tidak laku. Biaya operasional tidak sebanding dengan hasil yang didapatknya. Upaya menggelar berbagai event, seperti pasar malamtidak menunjukkan kemajuan ditingkat konsumen. Lamongan Plaza hanya dimanfaatkan pengunjung numpang lewat dari lahan parkir di belakang.

Dan terakhir, dibangunnya KFC di yang menempati lahan parkir di depan Lamongan Plaza dengan harapan mampu menghidupkan Lamongan Plaza juga tidak menunjukkan pergerakan apapun. Sampai – sampai Ramayana akhirnya hengkang.

“Kita akan bergerak terus, agar Lamongan Plaza tetap hidup,”ungkap Djoko Purwanto, Direktur PD Pasar, Selasa (30/12/2014).

Lamongan Plaza dibangun menghabiskan dana senilai Rp 63 miliar di Jl Panglima Sudirman  dari dana APBD ( 2008 -2009-2010 ).

Sejak dioperasionalkan Agustus 2011 hingga kini tidak semakin meningkat kosnumennya namun semakin sepi. Akibatnya ratusan stand ditinggalkan pemiliknya. Bahkan sebagian dikembalikan ke PD Pasar. Djoko  membenarkan banyaknya stan Lamongan Plaza yang ditinggalkan pemiliknya. Sebagian mereka yang beli dan ditinggalkan rencananya akan disewa PD Pasar.

“Ya mereka akan kita ajak bicara,”katanya.

Untuk memecahkan masalah Lamongan Plaza, kini pihaknya tengah melakukan pendekatan persuasive kepada para pemilik stan agar melakukan kegiatan dan membuka stannya. Tingkat kehadiran pengunjung di Lamongan Plaza relatif sangat rendah dibanding dengan kemegahaannya. Ini berdampak ditutupnya stan oleh pemiliknya karena sepi pembeli.

”Untuk memanjakan pengunjung kami kontinyu berinovasi dan juga kerja bareng dengan pihak ketiga,”ujar Djoko.

Diakui berbagai upaya itu belum maksimal membuahkan hasil, padahal tanggungan untuk biaya listrik dan operasional lainnya mencapai puluhan juta. Otomatis masih perlu subsidi dari pemkab. Langkah lainnya, yakni  dengan sistim  menyewakan stand yang belum laku. Namun kenyataannya masyarakat tidak banyak merespon peluang sistim sewa yang dibuka PD Pasar  Lamongan

 

 

 

Sumber: Surya

Hanif Manshuri