Wednesday, September 20, 2017
Breaking News
Home » News » Puluhan Tersangka Pencuri Naskah Unas di Lamongan Segera Disidangkan
Puluhan Tersangka Pencuri Naskah Unas di Lamongan Segera Disidangkan
Beberapa soal ujian nasional yang diambil saat pendistribusian, kini menjadi barang bukti di Polrestabes Surabaya, Senin (12/5/2014). Kasus ini kemudian ditangani Polda Jawa Timur.

Puluhan Tersangka Pencuri Naskah Unas di Lamongan Segera Disidangkan

Info Lamongan – Masih ingat kasus pencurian naskah Unas setingkat SMA pada 2014 yang melibatkan puluhan  kepala sekolah dan guru di Lamongan.

Ternyata kasusnya terus berlanjut dan akan segera disidangkan di PN Lamongan.

JPU Kejari Lamongan tinggal menunggu tahap dua penyerahan BAP, tersangka serta barang bukti  untuk segera bisa  disidangkan.

”Awal Januari  2015 memang pernah ada konfirmasi untuk  segera ditahap duakan,”ungkap Kasi Pidum Kejari Lamongan, Marthin RJP kepada Surya(Tribunnews.com Network), Selasa (13/01/2015).

Pada tahap pertama yang diketahui Marthin diantara sekitar 60 tersangka itu terdiri atas kepala sekolah, guru dan juga ada staf TU dari sejumlah sekolah negeri dan swasta.

Dari puluhan tersangka itu berita acara pemeriksaannya (BAP) dibuat terpisah – pisah.

Artinya, satu orang – satu BAP. Dan untuk kepastian tahap dua, Marthin mengaku masih menunggu konfirmasi dari Kejati Surabaya.

Sekenario  saat tahap dua nanti, proses pelimpahan ke PN akan dilakukan secara bersama  – sama.

Dengan jumlah tersangka yang begitu banyak, pihaknya memang belum bisa membayangkan bagaimana nanti.

“Kalau siapa – siapa yang ditahap duakan pertamakali saya  belum tahu . Pokoknya nanti yang pertama  masuk tahap dua, ya itu yang kita sidangkan dulu,”katanya.

Menghadapi persidangan ini, Marthin mengaku tidak ada persiapan khusus. Semuanya akan dijalaninya dengan normatf, karena pada dasarnya siapapun mereka tersangka sama saja.

Dalam proses persidangan tidak ada pilih – pilih.

”Sidangnya akan dilakukan bersama – sama. Dan setahu saya yang disidik itu adalah kepala seklah, guru dan staf TU. Mereka ini tersangkanya,”ungkap Marthin.

Kalaupun berkembang mengarah ke tersangka lainnya, termasuk  pimpinan lembaga atau instansi menurut Marthin semua itu menjadi wewenang penyidik.

Tugasnya hanyalah menjalankan proses persidangan hingga ada ketetapan hukum yang benar.(st36)

 

 

Sumber: Surya