Friday, September 22, 2017
Breaking News
Home » News » Rencana Pemprov Bangun Bandara Juanda II di Lamongan
Rencana Pemprov Bangun Bandara Juanda II di Lamongan
PADAT: Terminal II Bandara Juanda dipotret dari udara. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Rencana Pemprov Bangun Bandara Juanda II di Lamongan

Info Lamongan – Saat  ini kondisi Bandara Juanda sangat padat. Jumlah penumpang setiap tahun meningkat hingga mencapai sekitar 15,3 juta orang. Padahal, kapasitas terminal hanya 6,5 juta penumpang per tahun. Saking padatnya, jarak kedatangan dan keberangkatan pesawat saat jam sibuk mencapai 1,20 menit.

Untuk mengatasi hal tersebut, PT Angkasa Pura I membangun terminal 2 dengan kapasitas 6 juta penumpang per tahun. Ada pula rencana pembangunan terminal 3 dengan kapasitas 17 juta penumpang serta ditambah runway baru.

Namun, itu saja belum cukup. Sebab, pada masa mendatang, jumlah penumpang diprediksi terus meningkat dan arus penerbangan semakin padat.

Kepala Bappeprov Jatim Fattah Jasin mengatakan, jumlah penumpang di Bandara Juanda meningkat sekitar 5 juta orang per tahun. Menurut dia, kondisi tersebut juga terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. ”Bayangkan 20 atau 30 tahun ke depan. Dengan kondisi bandara yang ada saat ini, jumlah penumpang bisa semakin tidak terkendali,’’ ujarnya.

Karena itu, pemerintah harus memiliki alternatif lain untuk mengatasi penumpang yang membeludak. Jika hal tersebut tidak dilakukan, kondisi terminal penumpang semakin padat. ”Jangan sampai terminal di bandara seperti pasar. Kalau ini tidak diatasi, daya saing akan semakin rendah,’’ tambahnya.

Salah satu rencana pemprov untuk mengatasi hal tersebut adalah membangun bandara alternatif sebagai pengembangan Bandara Juanda di Lamongan. Program tersebut masuk pada perencanaan jangka menengah (PJM) 1 (2012–2016). Bahkan, rencana itu juga masuk dalam Perda Nomor 5 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2011–2031. ”RTRW ini sudah disamakan dengan tata ruang Kabupaten Lamongan dan RTRW nasional,’’ terangnya.

Bahkan, rencana tersebut didukung Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 4 Tahun 2013 tentang Tata Ruang Wilayah Provinsi Jatim 2012–2032. Secara garis besar disebutkan bahwa alternatif bandara baru di Kabupaten Lamongan dibangun pada tahap pengembangan 2015–2018. ”Setiap tahun kami selalu usulkan rencana ini ke pusat untuk jangka panjang,’’ ujarnya.

Sebelum memilih Lamongan, pemprov mengkaji pembangunan bandara baru. Beberapa alternatif lokasi bermunculan. Selain Lamongan, sebenarnya ada Bangkalan dan Gresik yang menjadi pilihan. Namun, dua wilayah tersebut memiliki kendala sendiri-sendiri.

Fattah menjelaskan, skenario pembangunan Bandara Juanda II di Bangkalan muncul lantaran adanya Jembatan Suramadu sebagai akses pendukung. Namun, Bangkalan ternyata masuk kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP). Kawasan tersebut terlarang untuk pesawat komersial lantaran masuk wilayah penerbangan TNI.

Rencana pembangunan bandara di Ujung Pangkah, Gresik, terkendala kondisi tanah yang tidak cocok untuk penerbangan. Selain itu, Gresik masuk kawasan industri yang tidak memperbolehkan pesawat komersial melintas.

Karena itulah, Lamongan menjadi alternatif lokasi yang sangat cocok. Selain infrastruktur cukup memadai, aktivitas ekonomi dan lingkungan masyarakat sangat mendukung pembangunan bandara baru sekelas Juanda.

Menurut Fattah, posisi Lamongan sangat strategis karena termasuk daerah segi tiga emas. Yakni, Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Sebutan segi tiga emas itu muncul untuk menggambarkan prospek ekonomi yang luar biasa. Dia memprediksi, minimal sepuluh tahun ke depan, daerah segi tiga emas tersebut berkembang pesat di sisi perekonomian. ”Lokasi itu sudah dikaji oleh ahli transportasi, lingkungan, hukum, bahkan dilihat dari taraf pasarnya,’’ terang dia.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, pemprov melakukan survei lapangan. Ada beberapa kesimpulan sementara yang dihasilkan. Di antaranya, dibutuhkan tanah 50–100 hektare untuk membangun bandara. Sebab, bandara tersebut akan dibuat berkelas internasional. Anggarannya, menurut Fattah, langsung dari pusat, bahkan bisa menjadi proyek investasi pemerintah pusat. ”Untuk detail teknisnya, yang tahu Kementerian Perhubungan,’’ ungkapnya.

Dia menjelaskan, banyak masukan dari tim pengkaji. Mereka mendukung realisasi pembangunan bandara baru sebagai pengembangan Bandara Juanda. Begitu pula, kabupaten/kota yang terlibat dalam pengembangan Bandara Juanda telah menyamakan RTRW-nya. ’’Kan itu perda disahkan oleh pemerintah pusat. Kajian langsung ke Lamongan juga sudah dilakukan,’’ tambahnya.

Fattah menuturkan, pada masa mendatang, investasi besar-besaran akan masuk ke Jatim. Dia lantas menyebut eksplorasi migas di blok Cepu yang melibatkan Exxon Mobil. Jika eksplorasi migas beroperasi penuh, arus barang dan jasa semakin tinggi. Karena itu, Jatim membutuhkan tambahan bandara sekelas Juanda untuk meningkatkan daya saing. Bahkan, bukan hanya bandara, pelabuhan, terminal, dan stasiun harus diperluas. ”Akses udara, laut, maupun darat harus diperluas,’’ ujarnya.

Jika Bandara Lamongan terealisasi, kemungkinan ada pembagian penerbangan. Misalnya, Bandara Juanda khusus untuk penerbangan internasional dan Bandara Lamongan khusus domestik (komersial dan bisnis). ”Hal seperti itu nanti bisa diatur supaya dapat mengurai kepadatan penumpang maupun penerbangan,’’ jelasnya.

Selain itu, pembangunan Bandara Lamongan bakal didukung akses intermoda transportasi. Selain taksi, ada kereta api yang menghubungkan bandara Juanda ke Lamongan. ”Skenarionya, PT Angkasa Pura akan terhubung antarwilayah. Ada kereta api cepat,’’ ujarnya.

Fattah memaparkan, jaringan jalan tol juga harus dipersiapkan untuk mendukung bandara di Lamongan. Misalnya, tol Surabaya–Gresik–Lamongan. ”Sekarang sudah ada tol Surabaya–Gresik, tinggal beberapa puluh kilometer saja akan menyambung ke Lamongan. Secara otomatis jaringan jalan bertambah,’’ tambahnya.

Jika pembangunan Bandara Lamongan terealisasi, menurut Fattah, dampak positifnya sangat luas. Mulai meningkatkan kesejahteraan warga Jatim, menumbuhkan aktivitas ekonomi, hingga mengurangi angka kemiskinan maupun pengangguran. ”Rencana ini memang jangka panjang. Tetapi, pemprov sudah memikirkan solusinya di dalam RTRW,’’ tandasnya.(jawapos.com/ayu/riq/c6/oni)