Friday, September 22, 2017
Breaking News
Home » News » Lamongan Diduga Ibu Kota Kerajaan Kahuripan
Lamongan Diduga Ibu Kota Kerajaan Kahuripan
Bangunan Candi Slumpang Yang di Ekskavasi. (antara/Syaiful Arif)

Lamongan Diduga Ibu Kota Kerajaan Kahuripan

Info Lamongan – Dimana letak pastinya Kerajaan Kahuripan? Belum ada kepastiannya. Namun, fakta arkeologis yang ditemukan, Lamongan diduga sebagai salah satu ibu kota Kerajaan Kahuripan. Sejumlah akademisi dan LSM membahas letak ibu kota Kerajaan Kahuripan tersebut dalam diskusi di ruang Sabha Dyaksa, Lamongan, Senin (25/5).

Hasil pemetaan dan penelusuran jejak situs dan prasasti Airlangga di Lamongan dibuka Bupati Fadeli. Hadir sebagai narasumber ialah Agus Aris Munandar dan Ninie Susanti, keduanya dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, dan Ketua Lembaga Studi dan Advokasi untuk Pembaruan Sosial (LSAPS) Supriyo.

Supriyo dalam kesimpulannya menyampaikan banyak jejak arkeologi berupa prasasti tersebar di Lamongan. Lamongan berpotensi untuk menjadi rujukan utama penggalian sejarah Kerajaan Airlangga. “Kemungkinan besar mampu membuktikan sebagai salah satu ibu kota Kerajaan Airlangga. Itu berdasarkan fakta arkeologis yang ada, yakni Prasasti Pamwatan tahun 1042 Masehi dan Prasasti Terep tahun 1032 Masehi,” ungkapnya.

Disebutkan olehnya, dari hasil penelusuran LSAPS di lapangan, terdapat 30 prasasti di Lamongan, di antaranya Prasasti Pamwatan, Garung, dan Candisari. Sayangnya, banyak prasasti dalam kondisi memprihatinkan. Ada pula prasasti yang sudah hilang. “Sehingga Pemda diharapkan proaktif melakukan perlindungan benda cagar budaya sebelum sejarah besar Lamongan lenyap tinggal cerita,” kata Supriyo.

Dari pemaparan Agus dan Ninie sepakat bahwa Lamongan ialah lokasi salah satu ibu kota Kerajaan Airlangga. Sejumlah fakta memang menunjukkan Keraton Airlangga berpindah-pindah karena diperkirakan kondisi politiknya yang belum stabil. Sampai saat ini, Keraton Airlangga baik di Wwatan Mas, Kahuripan, dan Dahanapura belum dapat diketahui lokasinya secara pasti.

Agus cenderung sepakat dengan asumsi bahwa keraton pertama Airlangga, yaitu Wwatan Mas berlokasi di Lamongan. Sementara keraton terakhirnya, Dahanapura disamakan dengan Daha, ibu kota wilayah Panjalu, saat ini Kediri. “Fakta yang ada tipis untuk menunjukkan bahwa Wwatan Mas berlokasi di utara Gunung Penanggungan,” kata Agus.

Justru dari Prasasti Wotan yang ditemukan di di Dusun Wotan/Lamongan memunculkan dugaan bahwa Wwatan Mas Airlangga berada di Lamongan. “Sebab banyak laporan yang menyebutkan sering kali ditemukan artefak emas, arca, kertas emas tipis, dan perhiasan di sekitar Dusun Wotan,” tambahnya.
Adapun Ninie justru menyebutkan konsentrasi temuan prasasti setelah 964 saka (Prasasti Pamwatan) yang isinya menyiratkan keraton baru Airlangga, Dahana Pura, berada di wilayah Kabupaten Lamongan. Tepatnya di Kecamatan Sambeng dan Ngimbang, karena banyaknya temuan prasasti dan candi di wilayah itu. Berdasarkan analisis distribusional prasasti, dia percaya Kerajaan Airlangga mula-mula berada di sekitar Surabaya, kemudian berpindah ke wilayah pedalaman di daerah aliran Sungai Brantas dan Bengawan Solo akibat serangan musuh.

“Sebagian besar prasasti di Lamongan ditemukan dalam kondisi sudah sangat aus, sehingga sebagian prasasti batu yang ada di Lamongan tidak dapat diketahui kronologi waktunya. Namun, berdasarkan analisis paleografi, aksaranya diketahui dari masa pemerintahan Raja Airlangga, ” papar Ninie.

Fakta lain dipaparkan Supriyo, terkait dengan kelahiran Lamongan. Setelah kemunduran Majapahit yang juga berimbas pada kemunduran Perdikan Biluluk di Lamongan Selatan, wilayah utara Lamongan justru berkembang dengan lahirnya perdikan-perdikan Islam, seperti Perdikan Sedayu, Drajat, dan Sedang Dhuwur.

Perdikan Drajat pada 1475 atau 1553 M dipimpin Sunan Drajat, keturunan Sunan Ampel. Sementara Perdikan Sendang Dhuwur pada 1483/1561 M dipimpin Sunan Sendang atau Raden Rahmat.

Kemudian di periode yang sama, di wilayah tengah tepatnya di Tumenggungan yang sekarang masuk wilayah Kota Lamongan, berkembang pemerintahan di bawah kendali Rangga Hadi dengan gelar Tumenggung Surajaya 1569-1607 M. Wilayah ini masuk kendali Kasultanan Giri. Pengangkatan Rangga Hadi inilah yang sampai sekarang dijadikan dasar penentuan Hari Jadi Lamongan.  (YK/N-4). (sumber: mediaindonesia.com)