Wednesday, September 20, 2017
Breaking News
Home » News » Air Masak Masih Aman Diminum?
Air Masak Masih Aman Diminum?
Ilustrasi mendidih air. (DOK.SPEEDARCHITECH)

Air Masak Masih Aman Diminum?

InfoLamongan.com – Kandungan tubuh 75 persennya adalah air. Salah mengonsumsi air bisa berakibat buruk bagi tubuh. Lantas, apakah air yang dimasak hingga mendidih aman untuk diminum?

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Umar Fahmi Achmadi mengatakan memasak air mentah hingga mendidih tidak menjamin air tersebut 100 persen higeinis. Sebab, zat kimia berbahaya seperti logam tetap mengendap di dalam air. Dan, inilah yang bisa membahayakan kesehatan orang yang mengonsumsinya.

Ia mencontohkan, kandungan logam bisa ada akibat dari tanah yang pernah mengalami proses penambangan. Hal ini menjadikan sumber air yang berasal dari tempat itu menjadi tidak layak di konsumsi.

“Ketika air dipanaskan virus, bakteri dan telor cacing akan mati. Tapi beda kalau logam dipanaskan akan tetap mengendap, tidak akan hilang sehingga berbahaya jika terus dikonsumsi dalam jangka panjang,” kata Umar di Jakarta (25/8).

Survei Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2012 menunjukkan 33 persen rumah tangga di Indonesia masih menggunakan fasilitas yang tidak layak dalam memperoleh air minum dan masih kerap dijumpai. Kondisi air yang tidak layak minum dari berbagai sumber air minum ini ditemukan dengan ciri keruh, berbau, berasa dan berbakteri. Penyakit yang biasa mendera akibat minum air berkualitas buruk misalnya kolera, rotavirus, diare, tipus, dan lain-lain.

Sedangkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, menunjukan prevalensi nasional penyakit diare adalah 3,5 persen. Yang mencengangkan di Papua penderita diare melebihi prevalensi nasional hingga mencapai 14,7 persen disusul Nusa Tenggara Timur 10,9 persen.

Bahaya kuman dalam air (waterborne disease) seperti juga terungkap melalui penelitian diare rotavirus yang dilakukan di RS Hasan Sadikin Bandung pada 2010. “Dalam penelitian tersebut dijelaskan rotavirus yang ditularkan melalui air yang tidak higienis bisa menyebabkan kematian, paling sering dijumpai pada balita laki-laki. Rotavirus itu virus penyebab diare,” ujarnya. Disebutkan pula dari 184 anak 47,8 persennya terdeteksi rotavirus. Dan paling banyak anak laki-laki, yakni 56 persen anak laki-laki usia 6-11 tahun.

“Ternyata memang kandungan tanah itu macam-macam, ada yang kelebihan kalsium, arsen atau radioaktif dan timbal. Tentu, masing-masing bisa ikut dengan air tanah dan apabila langsung dikonsumsi maka kandungan tersebut masuk ke dalam tubuh,” katanya.

Dalam beberapa literatur juga disebutkan, konsumsi air mentah yang dididihkan berisiko memiliki kandungan logam berat dan nitrit yang tinggi. Mengonsumsi air dengan kondisi ini dalam jangka waktu lama dapat mengganggu fungsi lambung dan usus.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyatakan air mendidih mungkin lebih baik dikonsumsi ketimbang air mentah. Namun bila tidak ada pilihan air minum, setidaknya didihkan air minimal 3 – 5 menit untuk untuk membunuh patogen dan bakteri berbahaya. “Untuk air yang layak dikonsumsi rumusnya itu 4T, yaitu tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna, dan tidak berbakteri,” ujarnya.

Dalam situs filterfiber.com ada beberapa cara pemurnian masalah air. Pertama, air berwarna kuning organik, biasa ditemukan di wilayah perkebunan, bisa menggunakan teknik kimiawi dan dibantu dengan dosing jump yang bertujuan menginjeksi cairan kimia agar terjadi proses koagulasi dan pengendapan.

Kedua, air mengandung logam zat besi (Fe) bisa dimurnikan dengan menggunakan karbon aktif dan oksidasi menggunakan kaporit tablet. Ketiga, air yang mengandung mangan (Mn) dan zat besi (Fe) tinggi, bisa dimurnikan dengan media filter Manganis Green Sand. (sumber: harnas.co)