Friday, September 22, 2017
Breaking News
Home » News » Tersangka Korupsi Perdin Dipindah dari Medaeng ke LP Lamongan
Tersangka Korupsi Perdin Dipindah dari Medaeng ke LP Lamongan
Seotardjo Syafe’i anggota DPRD aktif FPKB tersangka korupsi perdin tetap mengumbar senyum saat digiring petugas Kejari

Tersangka Korupsi Perdin Dipindah dari Medaeng ke LP Lamongan

InfoLamongan.com – Bagi keluarga tiga tersangka korupsi dana Perjalanan Dinas (Perdin ) DPRD Rp 4,2 miliar kini tidak perlu susah – susah harus besuk ke Medaeng.

Pasalnya, tiga tersangka tersebut yang kini menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya ‘dilayar’ dari Rutan Medaeng ke Lapas Lamongan.

Ketiga tersangka disatukan dengan empat tersangka kasus perdin tahun 2012 yang sudah ditahan di LP Lamongan.

Ketiga tersangka tersebut Jimmy Hariyanti, mantan Ketua Komisi A; Sulaiman mantan Ketua Komisi D, dan seorang rekanan, Muniroh.

Kasi Pidsus Kejari Lamongan, Edy Subhan kepada wartawan membenarkan tiga tersangka kasus dugaan penyalahgunaan anggaran perjalanan dinas (perdin) tahun 2012 dipindahkan penahanannya dari Rutan Medaeng ke Lapas kelas II Lamongan.

“Ketiganya ini kami eksekusi dari Medaeng untuk dilayar atau dipindah ke Lapas Lamongan,”ungkap Edy, Minggu (28/2/2016).

Dipindahkannya tiga tersangak itu, jelas Edy Subhan, sesuai dengan ketetapan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Surabaya. Pertimbangannya adalah untuk mempermudah pihak keluarga para tersangka membesuk. “Kami hanya menjalankan ketetapan Hakim,”tandasnya.

Itu berarti, Jimmy Hariyanto, Sulaiman, Muniroh menjadi satu tahan di Lapas Lamongan bersama Soetardjo Syafe’i (FPKB), Nipbianto (FPDIP), Abdul Munir, mantan Sekwan, Rivianto, mantan PPTK dan Ahmad Fatkhur, eks Ketua Komisi D yang digantikan Nipbianto.

Edy tidak menjelaskan, apakah semua tersangka korupsi minus Muniroh itu dijadikan satu dalam satu blok atau satu kamar.

Yang jelas tiga tersangka yang semula ditahan di Medaeng, kini sudah berada di Lapas Kelas II lamongan.

Delapan tersangka korupsi ini memang masih menjalani proses sidang dan secara bergiliran mereka akan menikmati proses sidang di PN Tipikor Surabaya. Tersangka Rivianto dan Abdul Munir merupakan splitan kasus korupsi perdin.

Hingga saat ini, kasus penyalahgunaan anggatan Perjalanan Dinas DPRD Lamongan tahun 2012 telah menyeret delapan tersangka.

Para tersangka tersebut, 3 orang eks anggota DPRD Lamongan, 2 anggota aktif DPRD Lamongan, seorang staf setwan, eks sekretaris Dewan, dan seorang rekanan.

Ke 8 tersangka dijerat UU Tipikor, yaitu pasal 2, pasal 3 dan pasal 8 UU Tipikor.
Kasus dugaan korupsi perjalanan dinas (perdin) 2012 ini sebenarnya berawal pada Mark up anggaran yang melibatkan anggota DPRD Lamongan sebesar Rp. 4.246.920.000.

 Penyimpangan ini terkuak dari hasil audit BPK yang menemukan penggelembungan tak wajar anggaran perjalanan dinas DPRDLamongan Rp. 1.004.400.000. (sumber: surya.co.id)