Wednesday, September 20, 2017
Breaking News
Home » SainsTech » Biodiesel Masa Depan Indonesia yang Lebih Ramah
Biodiesel Masa Depan Indonesia yang Lebih Ramah
Ilustrasi Biodiesel. (businesstimes.com.sg)

Biodiesel Masa Depan Indonesia yang Lebih Ramah

InfoLamongan – Indonesia kaya akan sumber daya alam seperti batu bara, gas, panas bumi, dan minyak bumi. Namun, lambat laun produksi sumber energi tersebut menipis sehingga perlu mendapatkan sumber lain. Cadangan minyak nasional, misalnya, saat ini sekitar 3,7 miliar barel dari sekitar 27 miliar barel cadangan minyak yang terbukti ada (proven reserve).

Pemerintah memperkirakan cadangan ini bertahan sekitar 10 tahun lagi. Dari sinilah, energi baru dan terbarukan mulai digalakkan, salah satunya pemanfaatan bahan bakar alternatif ramah lingkungan, biodiesel (B100).

Biodiesel adalah bahan bakar mesin bermotor diesel berupa alkil (metil) ester asam lemak (FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau hewani yang memenuhi standar mutu yang disyaratkan. Di Indonesia sudah memiliki standar SNI 7182:2012.

Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) mengatakan, B100 mempunyai sifat-sifat fisika yang mirip meski tak sama persis dengan bahan bakar diesel. Hal ini sangat memungkinkan dapat digunakan langsung pada mesin-mesin diesel, tanpa perlu melakukan modifikasi.

Beberapa karakteristik dan parameter kualitas biodiesel seperti stabilitas oksidasi, titik tuang, titik kabut, bilangan iodin, dan angka setana, sangat dipengaruhi oleh bahan baku minyak nabati.

Bahan baku biodiesel antara lain kelapa sawit, kedelai, bunga matahari, jarak pagar, tebu dan beberapa jenis tumbuhan lainnya. Namun, “Pemanfaatan biodiesel yang digalakan pemerintah saat ini menggunakan bahan kelapa sawit,” Ketua Kelompok Peneliti Bahan Bakar dan Gas Lemigas Cahyo Setyo Wibowo beberapa waktu lalu saat sosialisasi biodiesel di Tegal, Jawa Tengah..

Hal ini karena kelapa sawit telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, crude palm oil (CPO) berlimpah, dan teknologi pengolahannya sudah mapan, ketimbang tanaman lainnya.

Biodiesel tercipta melalui proses kimia yang disebut transesterifikasi yakni reaksi antara senyawa minyak kelapa sawit dengan senyawa alkohol (methanol). Dalam proses tersebut akan menghasilkan dua produk yaitumetil esters (biodiesel) dan gliserin untuk pembuatan sabun dan lainnya.

Cahyo menjelaskan untuk menghasilan biodiesel sesuai standar, dari proses produksi biodiesel dan gliserin harus lebih dulu dipisahkan melalui suatu tangki-pengendap. Setelah gliserin dipisahkan, larutan dicuci dengan air. Selanjutnya, didistilasi (dipanaskan) sehingga menghasilkan biodiesel sesuai standar.

“Produk akhirnya menghasilkan biodiesel untuk bahan bakar kendaraan. Dari bahan ini emisi NOx lebih sedikit tinggi, tetapi emisi CO yang lebih rendah dibandingkan dengan emisi yang dihasilkan dalam pemanfaatan BBM,” katanya.

Di Indonesia, pemanfaatan biodiesel untuk kendaraan dan industri belum 100 persen, tetapi masih mencampurkan dengan minyak solar. Tahun ini, kata Cahyo, Indonesia baru mencapai B20 yang berarti adanya campuran 20 persen biodiesel dan 80 persen solar. “Di SPBU namanya jadi biosolar,” katanya.

Meski terlihat mudah, hanya mencampur dua senyawa berbeda, dalam aplikasinya pencampuran solar dengan biodiesel tidaklah semudah yang diperkirakan. Dalam jumlah besar akan terjadi masalah bila konsentrasi biodiesel tidak sesuai dengan yang seharusnya.

Teknologi pencampur biodiesel dengan solar yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Metode In-Line Blending dan Metode In-Tank Blending/Splash Blending. Keduanya memiliki karateristik yang berbeda. Metode In-Line Blending hanya bisa diimplementasikan pada terminal pengisian bahan bakar besar atau pada lokasi industri. Sementara, MetodeIn-Tank Blending/Splash Blending bisa diterapkan di SPBU.

Metode In-Line Blending cara kerjanya lebih rumit, dua tangki diisi dengan solar murni (B0) dan biosolar (B100), kemudian kedua tangki tersebut dialiri kedalam satu tangki. Dalam proses mixing memanfaatkan pump propeller dan turbulensi fruida di dalam pipa.

“Dari situ dialirkan ke tangki lainnya dan sudah menjadi B20. Dosis menjadi B20 ini ditentukan dengan jumlah B100 yang disuntikkan dan dibandingkan dengan total fuel yang dialirkan,” katanya. Dalam memastikan dosis campuran yang tepat menggunakan programmable logic controller (PLC) dan flow meter.

Sedangkan, Metode Splash Blending lebih mudah dan efisien sebab mencampurkan biodiesel dan solar langsung pada satu tangki. Pencampuran sekuensial pada loading arm pengisian ini mempunyai keuntungan yaitu tidak terlalu banyak merubah sistem pengisian di terminal seperti depo.

Selain ramah lingkungan penggunaan biodiesel juga dapat meningkatkan cetana atau nilai kualitas pembakaran dari solar yang dicampur biodiesel (B20). “Minyak solar itu ada dua macam yang cetananya 48 dan 51. Semakin tinggi cetananya semakin bagus pembakarannya. Biodiesel itu cetananya antara 55 hingga 60an, sehingga jika dicampur minyak solar, cetananya semakin bagus,” ujarnya.

Namun, B20 juga memiliki kelemahan. Misalnya, untuk kendaraan keluaran lama, saat menggunakan B20 dalam tempo lama akan terjadi penggumpalan di filternya.

Kepala Kompartemen Teknik Lingkungan dan Industri Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Abdul Rochim mengatakan kekurangan lain dari B20 ketika di uji pada kendaraan jenis MPV (multi purpose vehicle) sedikit terjadi penurunan tenaga saat dijalankan. Dan, pemakaian bahan bakar naik sekitar 2,8 persen.

“Sedikit boros, tetapi kekurangan tersebut tidak terlalu signifikan. Filter kotor itu wajar karena kendaraan lama dan B20 ini sekaligus sebagaia pelumas. Jadi, kerak pada filter rontok pas pakai B20,” tutur Abdul.

Menurutnya, selama ini belum ada keluhan serius yang datang dari Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) anggota Gaikindo dari pemakaian B20. “Sejauh ini secara teknis pemakaian B20 so far so good,” katanya. (sumber: harnas.co)